Anti Stunting

5 Pilar Atasi Stunting di Indonesia

Baban Sarbana, Inovator Kampung Zimba, berdialog dengan Bp. Ir. Doddy Izwardy, MA, Direktur Gizi Kementrian Kesehatan RI, tentang rintisan Komunikasi Perubahan Perilaku Anti Stunting di Desa Tamansari.

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas tentang prioritas 5 pilar penanganan stunting, utamanya pilar ke-4 tentang Ketahanan Pangan untuk Akses Gizi Masyarakat.

Melihat Kondisi Anak-Anak Kurang gizi di Pandeglang
Anak balita menangis saat ditimbang di Puskesmas, Kaduhejo, Pandeglang (14/9). Dengan puluhan penduduk mengalami gizi kurang, gizi buruk dan beberapa anak sudah divonis stunting, ini menjadi gambaran bagaimana sulitnya mencegah stunting. (Foto:Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta – Stunting (gagal tumbuh) atau kurang gizi kronis yang kerap disebut gizi buruk telah menjadi masalah serius yang tengah dihadapi Indonesia. Pemerintah getol melakukan berbagai program pengentasan stunting terutama di daerah.

Deputi Setwapres Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto menjelaskan, saat ini ada lima pilar penting yang harus dilakukan agar semua program pengentasan stunting bisa sukses berjalan.

Dia menyebutkan lima pilar penting penanganan stunting tersebut yaitu komitmen, kampanye, konvergensi program, akses pangan bergizi dan monitoring progam.

“Dari pengalaman negara lain memang komitmen pemerintah sangat penting makanya rapat-rapat stunting di bawah Presiden sendiri yang memimpin rapat,” kata Bambang di Jakarta,

Pilar kedua yaitu kampanye yang berisi konsolidasi dan edukasi bagi semua pihak yang terlibat.

“Pilar yang sangat penting yang ketiga ini konvergensi tadi yang disampaikan berkali kali oleh Bank Dunia bahwa memang kelemahan kita tantangan kita terbesar adalah konvergensi dari program,” ujarnya.

Bambang mengungkapkan, sudah banyak kementerian dan lembaga yang melakukan berbagai program untuk mengentaskan stunting. Namun program-program tersebut belum terintegrasi dengan baik.

“Ternyata kita ini punya berbagai macam forum resmi kita punya tapi kita nggak punya atau tidak punya tempat dimana kita bisa mempersatukan program tersebut.”

Dia menjelaskan, kementerian dan lembaga terkait harus lebih sering duduk bersama agar konvergensi tersebut bisa terwujud.

“Saya ingin program-program kita semua itu ada di suatu kabupaten/desa apalagi kalau ditambanh dengan APBD. Jadi nih kelemahan yang berusaha kita sekarang ini ingin perbaiki.”2 dari 3 halaman


Saling Topang Program

Melihat Kondisi Anak-Anak Kurang gizi di Pandeglang
Anak balita menangis saat ditimbang di Puskesmas, Kaduhejo, Pandeglang (14/9). Dengan puluhan penduduk mengalami gizi kurang, gizi buruk dan beberapa anak sudah divonis stunting, ini menjadi gambaran bagaimana sulitnya mencegah stunting. (Foto:Istimewa)

Dia mencontohkan Kemenkes meluncurkan program unit spesifik dengan memberi obat cacing atau vitamin A gratis. Program tersebut tidak akan berhasil jika tidak ditopang oleh program lainnya.

“Selain program spesifik tadi ada program yang terkait dengan gizi sensitif misalnya air bersih atau sanitasi. Kita gak mungkin kasih obat cacing tapi sanitasinya jelek, percuma kita kasih obat cacing. Nah jadi bisa gak sih kita ini ada satu forum yang bisa memggabungkan perencanaan ini di depan sebelum program tersebut dilaksanakan.”

“Sinkronisasi ini ternyata menjadi tantangan paling berat di negara kita ini dan konvergensi ini pada waktu rapat di tingkat wapres yang diminta untuk konvergensi adalah Bappenas dengan Kemendagri karena memang tugas Bappenas ini merencanakan.”

Kemudian yang berikutnya adalah pilar keempat yaitu akses pangan bergizi.

“Pilar kelima adalah monitoring dan evaluasi. Monitoring kita lakukam bersama-sama KSP, TNP2K, Bappenas dan sebagainya. Karena ibu Menkes sudah beli vitamin A untuk semua masyarakat, sudah beli obat cacing untuk semua penduduk tetapi siapa yang memastikan ini diminum oleh orang-orang tersebut.” tutup dia.

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *